Navigation Menu+

Sebenarnya Sakit Apa Sich!..??

Posted on Mei 21, 2010 by in Keluarga, Kesehatan | 17 comments

Mulai kemarin (Kamis, 20 Mei)  Kimi masuk rumah sakit. Tapi syukurlah kata dokter besuk sudah boleh pulang. Meski terkantuk-kantuk (sekarang jam 3 pagi bo..) aku sempetin buat postingan ini. Karena waktu cari pencerahan tentang tifus (hasil diagnosa dengan Widal Kimi positif kena paratifus ) aku menemukan banyak sekali artikel bermanfaat. Salah satunya dari discusion forum  website yang diasuh oleh Prof Iwan Darmansjah, MD. Disini ada artikel menarik membahas tes Widal yang digunakan oleh banyak dokter untuk memastikan deman akibat tifus.

Sebelumnya saya percaya 100% dengan hasil tes widal ini. Tapi ternyata, nilai titer Widal belum tentu  bisa dipakai untuk mendiagnosis tifus jika tidak diikuti gejala-gejala khas tifus. Gejala khas itu antara lain demam berkepanjangan sedikitnya 6-7 hari. Namun tidak semua demam adalah tifus. Pada tifus demam pada hari-hari permulaan hanya ringan, tidak konstan, naik-turun, dan  setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, lidah kotor, serta kadang-kadang mual dan diare ringan.

Jadi diagnosa tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala-gejala tersebut. Kalau tidak ada gejala itu ya belum tentu tifus gituh lo!!. Berbeda dengan tes trombosit  bagi penderita demam berdarah, begitu nilai trombosit dibawah normal dipastikan kena DB meski kadang ada penderita tidak menunjukkan gejala khas DB yaitu bintik merah dikulit.

Tapi malangnya banyak dokter, bahkan dokter spesialis mendiagnosis pasiennya menderita tifus hanya berdasarkan hasil tes widal ini, dan meresepkan obat-obat (biasanya antibiotik. Selain mubazir karena obat-obatan untuk penderita tifus tidak murah. Kita semua juga tahu kalo pemakaian antibiotik tidak pada tempatnya dapat menyebabkan kuman  jadi resistan. Gawat kan??

kimi di rumah sakit

Diagnosa Awal

Kimi panas sampai tiga hari (Senin-Rabu) dan mencapai puncaknya pada hari Rabu yang mencapai 40 derjat Celcius. Setelah aku bawa ke dokter dan menjalani tes darah, hasilnya semua normal. Dokter curiga demam berdarah. Tapi ternyata kadar trombositnya normal. Dokternya berpesan jika keesokan harinya masih demam, harus tes darah ulang. Nah hari Kamisnya, Kimi tidak panas or demam sama sekali tapi jadi lemes, pucat,  tangan dan kaki dingin. Karena itu segera aku bawa ke RS, hasil tes darahnya trombosit normal tapi titer widalnya 1/130 yang menurut dokter positif kena paratifus dan harus dirawat.

Karena panik, aku tidak mencari 2nd opinion , langsung percaya aja ama diagnosa dokter ini. Kimi langsung rawat dan diberi  obat tifus melalui infus. Suami yang kebetulan saat ini ada di Balikpapan menyuruh untuk pindah dokter aja, karena pindah RS kan nggak mungkin. Akhirnya malam itu juga kita minta ganti dokter. Besoknya (hari Jumat) dibadan Kimi timbul bintik-bintik merah yang mencurigakan bentuknya seperti campak tapi munculnya di dada dan di perut. Kalo campak biasanya ruam awalnya tampak di wajah di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Meski muncul ruam merah dibadannya Kimi tidak tampak kegatalan. Padahal biasanya, ruam pada campak menimbulkan rasa gatal. Dia malah keliatan baik-baik aja. Emang paginya masih keliatan lemes tidur sampai 2,5 jam tapi siangnya secara tiba-tiba segar bugar dan mau makan banyak.

Kimi hanya sempet diinfus 7.5 jam, karena infusnya ditarik.  Pfft.. Padahal sudah dipelototin masih juga kecolongan jarumnya ditarik sehingga darahnya kemana mana. Dipasang yang kedua, eh malah jarumnya bengkok karena Kimi tidurnya lasak. Akhirnya sama perawat tidak dipasang lagi.

Waktu dokter yang ke-2 visit, aku tanyain sekali lagi anakku sakit apa? Selain demam tinggi, hasil tes widal kayaknya tidak ada tanda yang menunjukkan penyakit tifus. Jawaban si dokter kedua ini tidak jelas. Dia hanya bilang ada kuman tifus ditubuh anakku tapi masih dalam taraf wajar. Dia hanya meresepkan isprinol aja. Akhirnya aku mencari info sendiri di dunia maya. Awalnya aku pengen tahu isprinol itu obat apa, ternyata isprinol itu obat untuk membunuh virus (obat untuk meningkatkan daya tahan tubuh yang memang diperlukan untuk menangani penyakit akibat virus) padahal katanya anakku kena gejala tifus yang disebabkan oleh bakteri. Nah lo.. tidak klop kan? Mulailah aku makin gencar menguplek-uplek artikel kesehatan sehingga sampailah aku pada kesimpulan Kimi tidak kena tifus. Meskipun tes Widal menyatakan sebaliknya. Kesimpulanku, Kimi terkena penyakit yang namanya ROSEOLA INFANTUM!!!

Salah Diagnosa

Ketika aku konfirmasi ke dokternya, beliau membenarkan dugaanku dan akhirnya ketawa mengakui kalo sebenarnya dari awal Kimi tidak kena tifus. Dokter salah diagnosa. Cuma dia tidak enak kalo langsung menyalahkan diagnosa dokter yang pertama dulu. *Sigh *. Makanya dia stop obat tifus yang diresepkan oleh dokter yang pertama. Mengganti dengan vitamin dan isprinol aja. Tobat! tobat! gimana coba kalo aku pasrah aja, percaya ama diagnosa dokter. Emang benar apa kata bundanya Aira (aku copy paste ya mbak..) Sudah saatnya kita sebagai orang  bukan melulu “konsumen” rumah sakit, tapi kita juga harus berusaha terlebih dahulu mencari informasi mengenai penyakit yang diderita untuk mencegah kesalahan diagnosis atau kekeliruan treatment yang dokter berikan.

Yaaa… Dokter kan juga manusia. Mereka bisa salah diagnosa. Pasiennya bukan cuma anak kita doanggg. Jadi kita juga jangan bergantung penuh sama dokter untuk tahu tentang anak kita. Udah selayaknya kita yang jadi orangtuanya yang selangkah lebih tahu mengenai kondisi anak kita. Kita kan bareng mereka 24 jam penuhhh.

salah diagnosa
salah diagnosa
salah diagnosa
salah diagnosa
salah diagnosa
salah diagnosa

Ok, sekian dulu ya curhatnya. Sudah ngantuk bener. Semoga pengalamanku ini bisa jadi pembelajaran bagi kita semua (ceile..). Next time aku posting tentang si Roseola yang bikin heboh ini deh.

17 Comments

  1. wah, berarti kita mesti cari 2nd opini ya, kalau anak kita sakit. Kadang sih udah bingung duluan jadi nurut aja apa kata dokter.
    tengkyu sharingnya mba, bisa buat pelajaran buat aku

  2. berarti dokter bs salah diagnosa, ngak pinter2 banget
    makanya harus cari second opinion, jangan kita jadi bulan2an obat2an yg muahal2 itu lah

  3. Isprinol bukanlah antibiotik, lebih tepatnya immunomodulator untuk melawan virus. Skr memang widal sudah mulai ditinggalkan tuk mendiagnosa demam thypoid, skr lbh disarankan memeriksa Ig M salmonella namun hrs dilakukan stlh panas hari ke5.

    • Terima kasih koreksinya dok. Sdh diedit ..hehehe. Wah terima kasih juga tambahan infonya. Bermanfaat sekali

  4. Bun, jgn cepat2 menyalahkan dokter pertama.. mungkin maksudnys suspek demam thypoid/tifus. Kalau bunda gak cari second opinion, dokter pertama juga pasti tahu kalau bkn tipus stlh muncul ruamnya..
    dia ksh terapi antibiotik, berdasar pengalaman, penyakit infeksi yg bnyk dimasyarakat, mungkin leukositnya tinggi waktu itu, atau dari pemeriksaan fisik dia mencurigai ada mixed infeksi atau infeksi campuran.. kalau dasarnya itu kita tdk bisa menyalahkannya..
    Seandainya ruamnya blm muncul saat diperiksa dokter ke2.. obatnya mungkin msh diteruskan

    • Makasih sdh berkunjung bun, bukannya bermaksud menyalahkan dokter pertama cuma mengkritisi saja ( bedanya apa y..hahaha). Memang saat diperiksa Kimi belum keluar bintik-bintik merah (ruam). Yang sy pertanyakan kenapa hanya berdasar test widal langsung diagnosis tifus. Penyakit yang membutuhkan obat khusus yang tidak bisa dikonsumsi sembarangan. Coba bayangkan..misal ternyata bintik-bintik merahnya baru keluar tiga hari kemudian dan selama tiga hari itu krn diagnosa tifus maka anak harus mengkonsumsi obat tifus,selain harga obat tidak murah apa bukan malah secara tidak langsung kita meracuni anak dengan obat-obatan tersebut…Iya benar kl leosit tinggi biasanya menunjukkan ada inveksi bakteri yang dsa kadang meresepkan anti biotik . Tapi kan antibiotik utk kasus semacam ini beda jauh dengan obat-obatan tifus.

  5. Anak sy setiap sakit tiba2 demam tinggi lebih dari 39 C pasti dikasi isprinol krn indikasinya kalo tiba2 panas tinggi lbh dari 39 itu diakibatkan virus. Pernah kena pertama kali kenal isprinol krn sakit flu singapur. Alhamdulillah dapet dsa nya ciamik punya yg ga mau sembarangan ngasih obat ke anak apalagi antibiotik

  6. Terimakasin bun
    Baru tau kalo ada antibiotik utk membunuh virus,
    Menambah pengetahuan sy.

    • Sama-sama bun. Cuma sharing saja. Maaf sy salah tulis ( sdh diedit) isprinol itu obat untuk melawan virus. bukan antibiotik.

  7. iya bun, dokter pertama mencoba menegakkan diagnosa sesuai kondisi dan data seadanya. karena lazimnya di kita itu. tapi diagnosa itu mungkin berubah sesuai kelengkapan data lab atau gejala berikutya. jadi hanya dokter pertama hanya berusaha berbuat yg terbaik. kalo di LN sebelum dirawat.diperiksa lab lengkap dulu…tapi biaya nya sangat mahal…di indo namanya defensif medicine…akan diprotes pasien juga karena high cost. jadi dokter pakenya evident base.

  8. Bener… semua terjadi sama saya… tapi karena saya kerja di rumah sakit… dan sedikit tau diagnosa (saya bukan org medis)…
    jadi saya selalu kalo anak sakit sebisa mungkin cari info di internet sesuai kondisi anak… setelah dari dokter, jadi saya kombine… saya sekarang pun jarang memberi anak antibiotik jika sekiranya anak tidak membutuhkan… gak tiap2 sakit antibiotik…
    makasih y bun… sharenya…

  9. Mmg perlu komunikasi antara dokter dan pasien…karna masalah pasien bisa berubah setiap hari….awalnya panas dan bapil….eh hari ke 5 timbul ruam campak…..

  10. Bund.. seminggu yg lalu anakku didiagnosa Db dilihat dri hasil tes lab trombosit 153 kyaknya masih normal tpi mendekati rendah. Dokter memberi 2 opsi mau rawat jln atau inap. Krn kami sdh panik apalagi bpaknya,ditambah anak susah makan n minumnya akhirnya dirawatlah carissa di rs dan diinfus. Beberapa jam setelah diinfus sya ga tega anak sya nangisss dan seharian rewel. Alhamdulillah setelah hari ke 5 dia udah g panas lagi n mulai aktif. Trus pas agak siangan kok muncul merah2 seperti roseola infantum, sya yakin kalo ini bukan Db. Krn setelah merah2nya keluar anak sya jadi normal suhunya dan aktif lagi. Waktu besoknya sya tnya dokter cuma bilang “ohh gapapa” haduh.. jangan2 dokter ini salah. Padahal sya kasihaan banget liat anak sya dari hr pertama diinfus kesakitan g bisa gerak bebas. Kira2 menurut bunda anak sya db atau kena roseola aja?? Memang sih pda saat itu sya ga nyari scnd opinion. Krn itu dokter yg paling rame disini.

    • Sama persis sama kasus anakku, panik karena panas tinggi 3 hari dikasih penurun panas pun ga mempan, hari kedua udah kedokter tp dokternya untung selow disuruh nunggu hari ke lima klo masi demam baru cek darah, ga dikasih obat apa2 cm penurun panas sama isprinol, hari keempat neneknya udah panik karena masih demam jd cek darah duluan trombositnya mepet bawah tp dokternya belom bisa kasih diagnosis disuruh balik lg besok cek darah ulang walaupun katanya harus siaga takutnya dbd, ehh besok paginya ternyata demam langsung turun hasil cek darah normal, trombositnya udah naik daaaaannnn timbul lah ruam disekujur badan.. ketemu dokternya cuma senyum2 aja bilang gapapa nanti ilang sendiri.. ahhh untung ketemu dokter yang cucok!

      • Bu, mau tanya.. setelah dikasih isprinol. Ruam2nya hilang brp lama ya. Kasus saya sama seperti anak bunda. Cek ke dokter, katanya gapapa nanti ruam merah2 akan menghilang. Tp ini sdh 2 hari minum obat blm hilang. Malah smkn banyak dr sebelumnya. Makasih

  11. Memang isprinol bagus bet.. anak saya tiga2nya kena demam tinggi, batuk dikasih maxprinol / isprinol langsung ada perubahan walau awal panik juga.. saya pilek, idung mampet n meriang ngga baek2 udah 3 hari akhirnya minum isprinol lgs abis minum idung plong bisa nafas.. ini beneran jd ketika obat masuk ke badan ada perubahan tenggorokan jadi enakan n idung plong.

  12. Senasib mbak, anakku jg overdiagnosed sama dokter di opname 5 hari for nothing! Gara2 di tes darah di lab abal2, katanya trombositnya 120rb, lalu masuk ugd di tes darah lagi ternyata beda wkt 2 jam iru trombosit 178rb! Parah bgt itu lab abal2. Karena takut trombosit turun akhirnya kami putuskan utk opname. Selama opname semua ketakutan gak terbukti dr typus or DBD. Tp masih di tahan aja sampai 5 hari. Pdhl sy masih ada anak balita di rumah yg terpaksa harus ditinggal.ppffftt…

Submit a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Share This
%d blogger menyukai ini: